Dibalik Surat itu

my lucky starAku merasa aku sudah melakukan kesalahan besar dengan melakukan hal ini. Namun, aku juga sadar bahwa permintaan orang tuaku bagaimanapun adalah sesuatu yang harus aku penuhi lebih dulu dalam skala prioritasku.

Aku mengerti, maksudmu adalah menghendaki sesuatu yang baik dan sudah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Namun, apalah daya ku wanita yang dirundung masa lalu dan ketakutan akan masa depan. (lebih…)

Iklan

Timbul tenggelam perasaan ^^

Timbul tenggelam perasaan yang dimiliki manusia, seperti daun yang terbawa air sungai. Kadangkala daun itu terhenti sejenak, lalu seketika terhempas begitu saja kembali diseret air. Terombang ambing tanpa tahu ke mana ia akan berhenti. Acapkali kita merasa seperti daun itu, merasa bertemu dengan sang manusia pilihan-Nya. Kita berhenti seolah-olah sudah sampai pada dermaga yang sebenarnya. Acapkali kita lalu terhempas lagi terbawa air, merasa terombang ambing. Gulana. (lebih…)

Angka 8 Milikku

“Mencintai bukan hanya soal mendapatkan orang yang dicintai, namun mencintai adalah perihal mempertahankan dan mengharapkan orang tersebut dalam setiap do’a.”

***

Entah sejak kapan kita berdua mulai akrab, namun ada satu hal yang masih aku ingat diawal perjumpaan kita. Saat itu aku dikagetkan dengan kemunculanmu yang secara tiba-tiba dari balik gedung  kesenian sekolahku. Kita berpapasan di samping gedung dan aku yang terburu-buru hendak mencuci tangan sehabis bermain cat hampir saja menabrakmu. Untungnya saat itu aku bisa berhenti tepat dihadapanmu, lalu kita bertegur sapa dan saling meminta maaf. Mungkin itu bukanlah hal yang cukup spesial bagi kebanyakan orang, namun bagiku pertemuan pertama itu tidak pernah hilang dari ingatanku. (lebih…)

Bidadari itu Ibuku

IMG1589A

Mungkin pagi hari memang lebih menyenangkan dari pada senja, di saat itu kehidupan baru akan dimulai, sedangkan kala senja adalah perbatasan hari. Ketika matahari memancarkan sinar keemasannya menyinari bumi, anak-anak terbangun di pagi hari. Sibuk mandi, dan bergegas pergi sekolah. Aku malah sering menerlambatkan diriku di rumah, merangkulmu dari belakang dan menikmati senyummu, Ibu. (lebih…)

Secarik Rindu

Gemericik air sesekali terdengar dari luar jendela, air yang dengan asyiknya meliuk-liukkan tubuhnya menempa hamparan tanah tandus membuat irama yang cukup menenangkan hati. Bau tanah basah menyergapku, entah untuk yang ke berapa kalinya. Suasana yang lenggang di pagi hari seperti ini memang cukup wajar ketika kedua adikku sudah berangkat sekolah. Suasana yang cukup tenang untuk membangun imaji dengan tuts keyboard di depanku, membangun klausula lebih tepatnya. (lebih…)